B. Indonesia

Pertanyaan

ulasan pada teks eksplanasi tentang perlawanan ulama pejuang: pangeran diponegoro

1 Jawaban

  • Teks eksplanasi adalah karya sastra Indonesia yang menyajikan informasi perihal detil terjadinya suatu peristiwa. Terdapat dua aspek yang dilaporkan dalam sebuah teks eksplanasi yaitu bagaimana dan kenapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Sebagai sebuah karya sastra, teks eksplanasi dibangun di atas tiga struktur utama. Ketiga struktur tersebut mencakup identifikasi fenomena, proses kejadian atau urutan sebab akibat atau deret penjelas, dan ulasan.


    Pembahasan

    Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk menyajikan struktur ulasan dari sebuah teks eksplanasi yang berjudul Perlawanan ulama Pejuang: Pangeran Diponegoro. Berikut kakak akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.


    ULASAN

    Oleh Pangeran Diponegoro tawaran itu diterima. Sehari sesudah Lebaran (28  Maret 1830) Pangeran Diponegoro beserta pengikut-pengikutnya memasuki kota  Magelang untuk mengadakan kunjungan kehormatan dan persahabatan dengan  Jenderal de Kock. Pangeran Dipenogoro diterima Jenderal de Kock dengan penuh  kehormatan di ruang kerjanya. Ketika Jenderal de Kock menanyakan syarat  apa yang diinginkan, Pangeran Diponegoro menghendaki negara merdeka dan  menjadi pimpinan mengatur agama Islam di Pulau Jawa.

    Jenderal de Kock menolaknya dan melarang Pangeran Diponegoro  meninggalkan ruangan. Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda yang  ternyata telah menyiapkan penyergapan secara rapi. Dengan demikian, Belanda  menjalankan pengkhianatan yang kesekian kalinya. Selanjutnya dengan pengawal  yang ketat, Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia lalu dibuang ke Manado  kemudian dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Makassar sampai wafatnya (8 Januari 1855). Jenazahnya dimakamkan di Kampung Melayu, Makasar.


    Sebagai rujukan, berikut kakak sertakan kutipan awal teks tersebut.

    Perlawanan Ulama Pejuang: Pangeran Diponegoro

    Pada tahun 1825 Belanda bermaksud menyambung dan memperlebar  jalan melalui tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro dengan tidak minta  izin lebih dulu kepada Pangeran Diponegoro. Hal itu menyebabkan Pengeran Diponegoro marah karena mengesampingkan beliau sebagai wali raja sekaligus  ulama kharismatis dari Kesultanan Yogyakarta.

    Pada waktu diadakan pemasangan pancang-pancang oleh suruhan Belanda,  pancang-pancang itu dicabuti oleh suruhan Pangeran Diponegoro. Wakil  Belanda, Residen Smissaert, meminta Pangeran Mangkubumi (paman Pangeran  Diponegoro) untuk memanggil Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran  Mangkubumi bertemu dengan Pangeran Diponegoro, ia malah bergabung  dengan Pangeran Diponegoro untuk melakukan perlawanan. Pada tanggal 20 Juli  1825 rumah kediaman Pengeran Diponegoro di Tegalrejo diserang dan dikepung  oleh pasukan berkuda di bawah pimpinan Chevalier dengan maksud untuk  menangkap Pengeran Diponegoro.

    Dalam pertempuran itu Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi  lolos. Namun, rumah Pangeran Diponegoro dibakar oleh Belanda. Sejak  itu Pengeran Diponegoro bertekad melawan Belanda untuk menegakkan  kemerdekaan dan keadalian dari kaum penjajah.

    Perjuangan Pangeran Dipenogoro mendapat simpati luas. Para pengikutnya  pun bertambah banyak. Oleh karena itu, pasukan Pangeran Diponegoro dibagi  menjadi beberapa batalyon dan setiap batalyon diberi nama sendiri misalnya  Turkiya, Arkiya, dan sebagainya.

    Dalam peperangannya, Pangeran Diponegoro mempergunakan sistem  gerilya. Mereka tidak pernah mengadakan penyerangan secara besar besaran.  Akan tetapi, hanya degan perang lokal secara sporadis. Siasat ini ternyata sangat  efektif dan menjadikan Belanda kewalahan.

    Untuk menghindari serbuan Belanda, Pangeran Diponegoro memindahkan  pusat pertahanannya ke Daksa (sebelah barat laut Yogyakarta). Selanjutnya  serangan-serangan terhadap Belanda dilakukan dari Daksa sebagai pusat  pertahanan yang baru. Bersamaan dengan itu, atas desakan rakyat, para  bangsawan dan ulama, Pangeran Diponegoro mengangkat dirinya sebagai kepala  negara dengan gelar “Sultan Abdulhamid Herucakra Amirulmukminin Sayidin  Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa”. Setelah diadakan penobatan, didirikanlah  pusat negara, yakni Plered dengan pertahanan yang kuat. Hal itu dilakukannya  untuk menjaga kemungkinan apabila mendapat serangan dari pihak Belanda  yang mungkin muncul sewaktu-waktu. Pertahanan daerah Plered ini ditangani  oleh Kerta Pengalasan.

    ...


    Pelajari lebih lanjut

    Pada materi ini, kamu dapat belajar tentang teks eksplanasi:

    https://brainly.co.id/tugas/752240


    Detil jawaban

    Kelas: VIII

    Mata pelajaran: Bahasa Indonesia

    Bab: Bab 1 - Sastra

    Kode kategori: 8.1.1


    Kata kunci: ulasan, teks eksplanasi, perlawanan ulama pejuang: pangeran diponegoro

Pertanyaan Lainnya