cerpen tentang Alm gusdur
B. inggris
angga749
Pertanyaan
cerpen tentang Alm gusdur
1 Jawaban
-
1. Jawaban izzahalya09
Nama almarhum Gus Dur yang sebenarnya adalah Abdurrahman “Addakhil”. Secara leksikal, “Addakhil” mempunyai arti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup diketahui orang dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan lalu lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.
BAHASA INGGRIS
The name of Abdurrahman's late Abdurrahman is "Addakhil". Lexically, "Addakhil" means "The Conqueror", a name taken by Wahid Hasyim, his parents, from a pioneer of the Umayyads who established the glory of Islam in Spain. Later the words "Addakhil" were not known enough and were renamed "Wahid", Abdurrahman Wahid, and then better known as Gus Dur's call. "Gus" is a typical pesantren honorific call to a kiai child meaning "brother" or "mas".
Gus Dur was the first of six siblings born in Denanyar Jombang East Java on August 4, 1940. Genetically Gus Dur is a descendant of "blue blood". His father, K.H. Wahid Hasyim is the son of K.H. Hasyim Asy'ari, founder of Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) -the largest Islamic mass organization in Indonesia-and founder of Pesantren Tebu Ireng Jombang. His mother, Mrs. Hj. Sholehah is the founding daughter of Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. His maternal grandfather was also a NU figure, who became Rais' Aam PBNU after K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Thus, Gus Dur is the grandson of two NU ulama at once, and two prominent Indonesians.