buatlah cerita fantasi dengan tema acara kenduri
B. Indonesia
ara437
Pertanyaan
buatlah cerita fantasi dengan tema acara kenduri
1 Jawaban
-
1. Jawaban muhammadilham168
Di desa Giyanti, Pak Darma adalah petani paling tua dan dihormati oleh seluruh warga desa. Ia disegani oleh para warga karena kebaikan hatinya. Sejak muda, Pak Darma selalu menolong tetangganya yang kesulitan, baik secara ekonomi maupun secara moril. Selain itu, Pak Darma memang orang yang pandai bersosialisasi. Ia sering mengajak warga kampung bercengkerama di rumahnya dalam rangka selamatan/kenduri atas hasil panennya yang selalu melimpah. Pak Darma sadar betul, hasil panennya ialah berkah dari Tuhan yang harus disyukuri. Salah satu cara mensyukuri nikmat itu ialah dengan berbagi kebahagiaan bersama tetangga-tetangga di desanya.
Di usia tuanya, Pak Darma kini sudah mulai merasa letih dan tidak mampu menggarap sawahnya sendiri. Ia bermaksud menyerahkan sawahnya pada Adi, anak laki-laki satu-satunya. Sejak kecil, Adi disekolahkannya di kota, dengan harapan mendapat pendidikan yang baik. Akan tetapi pergaulan di kota justru membuat Adi melupakan nilai-nilai sosial yang ada di desa. Adi tidak menyukai kenduri yang sering diselenggarakan bapaknya, karena menganggap hal itu sebagai pemborosan. Oleh karena itu, ketika Pak Darma bermaksud menyelenggarakan kenduri sebagai wujud syukur atas hasil panen terakhirnya sekaligus meminta doa warga desa agar Adi dapat berhasil meneruskan penggarapan sawah miliknya, Adi menolak rencana bapaknya itu. Adi berpendapat, hasil panen lebih baik ditabung saja untuk modal Adi dalam mengelola sawahnya. Adi berencana untuk membeli alat-alat pertanian modern untuk meningkatkan hasil pertanian sawahnya nanti.
Ketika Adi pulang ke desanya, pada sebuah pagi yang mendung, ia berencana untuk menengok sawah bapaknya. Hari itu sangat gelap, padahal jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Tiba-tiba muncul petir berkilatan. Awan-awan semakin menggumpal kehitaman. Hujan turun dengan derasnya. Badai datang dengan sangat dahsyat. Dari langit, tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar berbentuk manusia raksasa. Makhluk itu dengan sangat beringas memangsa hasil bumi di sawah Pak Darma. Adi sangat ketakutan. Ia yang saat itu berada di sawah, hendak lari karena takut akan ikut dimangsa makhluk raksasa itu. Ia sampai terkencing-kencing di celana. Tapi entah kenapa, kakinya tak dapat digerakkan. Ia berusaha sekuat tenaga. Akhirnya ia dapat mengerakkan kakinya. Karena panik dan tidak berhati-hati, ia terpeleset pada sebuah tanah yang licin. Ia lalu pingsan, tak sadarkan diri.
Adi siuman pada ketika hari sudah sore. Ia sudah berada di rumahnya ketika ia sadar. Ia dikelilingi oleh Pak Darma, Bu Darma, dan beberapa tetangga yang khawatir tentang kejadian yang menimpa Adi. Pak Darma bercerita, Adi ditemukan pingsan di sawah, dan beberapa warga desa segera bergotong royong membawa Adi pulang ke rumah. Mereka khawatir apakah ada sesuatu yang buruk menimpa Adi, atau apakah Adi memiliki penyakit yang berbahaya.
Mendengar cerita bapaknya, Adi menangis. Ia tersentuh oleh kebaikan para warga desanya. Ia menyadari kesalahannya yang terlalu egois dan memandang rendah para warga desa. Adi kini sadar, bahwa nikmat yang telah diberikan Tuhan berupa sawah yang menghasilkan banyak hasil panen, sudah seharusnyalah disyukuri dengan berbagi dengan orang lain. Pada saat itu pula ia langsung meminta maaf pada ayahnya. Ia telah belajar bahwa ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk meneruskan usaha sawah ayahnya. Ketika itu juga, ia meminta ayahnya untuk menyelenggarakan kenduri sebagai wujud syukur atas panen selama ini, sekaligus meminta doa restu warga desa agar nanti diberikan kelancaran dalam mengelola sawah pemberian Pak Darma. Kenduri itu akhirnya dilaksanakan keesokan harinya, di balai desa dan mengundan semua tetangga. Adi kini lega, peristiwa aneh yang menimpanya justru telah memberinya banyak pelajaran.