B. Daerah

Pertanyaan

Contoh tembang mijil

1 Jawaban

  • Tembang Mijil memiliki kaidah/ Wewaton: 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o
    Seperti contoh berikut ini :

    Poma kaki dipun eling (10i)
    Ing pitutur ingong (6o)
    Sira uga satriya arane (10e)
    Kudu anteng jatmika ing budi (10i)
    Ruruh sarta wasis (6i)
    Samubarangipun (6o)

    Tembang Mijil ini memang dalam beberapa referensi digunakan sebagai metode dakwah Islam, beberapa referensi menyebutkan Mijil adalah karya dari Ja’far Shodiq atau sunan kudus, sedangkan referensi lainnya mengatakan Mijil digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk berdakwah.

    Sedikit memberikan gambaran, bahwa menurut para ahli tafsir sastra Jawa, tembang Macapat itu merupakan urutan sebuah perjalanan seseorang dari lahir sampai mati. “Mijil" adalah yang pertama. Secara harfiah berarti muncul atau tampil, ditafsirkan sebagai sebuah kelahiran.

    Ada yang menjelaskan bahwa itu merupakan kelahiran fisik bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsirkan sebuah kelahiran ketika orang mulai muncul keinginan untuk menjadi baik, dikatakan sebagai kelahiran kembali.

    Menurut narasumber yang sama, bapak Susianto, Tembang Mijil ini memiliki seperangkat tata nilai dan etika yang digunakan dalam konteks masyarakat Jawa. Dan salah satu syair Mijil yang terkenal adalah sebagai berikut,

    Dedalane guno lawan sekti
    kudu andhap asor
    Wani ngalah dhuwur wekasane
    Tumungkula yen dipun dukani
    Bapang den simpangi
    ono catur mungkur

    Makna moral yang disampaikan dalam bait lagu tersebut, menurut narasumber adalah sebagai berikut, sebagai studi karakteristik Jawa, adalah sebagai berikut,

    1. Dedalane guno lawan sekti. Dibuka dengan sebuah kalimat yang mengabarkan tentang jalan agar seseorang bisa menjadi bermanfaat dan sakti. Pemaknaan tersebut adalah sebuah pengingat kita sebagai manusia, bahwa tujuan hidup bisa dilihat dari dua perspektif yaitu mempersiapkan bekal setelah mati (karena manusia pasti mati), dan melakukan sesuatu agar kesempatan kita hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang bermakna dan memberi manfaat bagi kehidupan.

    Sakti bisa ditafsirkan tentang gambaran sebuah pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Bait ini bisa diterjemahkan secara jalan agar kita bermanfaat di dunia ini dengan memiliki kapasitas yang kita miliki. Seorang islam harus memiliki ilmu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Karena kalau iman saja, kemudian tanpa ilmu, maka itu tidak berguna. Maka harus berilmu dulu, beriman, lalu yang selanjutnya adalah aplikasi dalam bentuk amal.

Pertanyaan Lainnya